LATAR BELAKANG

Setiap aktivitas yang dilakukan masyarakat modern sangat bergantung pada ketersediaan energi. Kemajuan suatu negara akan sangat terkait dengan kecukupan ketersediaan dan ketahanan energi di negara tersebut. Pada negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, dan negara-negara Eropa lainnya, bahkan Korea, ketersediaan energi sangat memadai untuk melakukan kegiatan di berbagai bidang yang bisa diandalkan untuk pembangunan bangsa dan negaranya.

Namun dalam pengadaan energi tentu saja harus memperhatikan faktor kelestarian lingkungan hidup. Merusak lingkungan hidup sama dengan menghilangkan kesempatan hidup bagi generasi berikutnya. Lingkungan hidup suatu negara akan sangat berkaitan dengan negara lain sehubungan isu perubahan iklim. Komitmen terhadap perubahan iklim telah menjadi topik utama dalam percaturan politik dunia. Momentum Protokol Tokyo telah menjadi pemicu pentingnya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim untuk dilaksanakan negara-negara di dunia. Indonesia harus ikut berkomitmen terhadap perubahan iklim agar bisa tetap bergaul dengan negara-negara lain. Hal ini penting karena dalam kehidupan bernegara tidak akan lepas dari bantuan-bantuan luar negeri serta investasi yang masuk guna menunjang pertumbuhan ekonomi. Untuk dapat mengundang investasi dari negara-negara lain, Indonesia harus dapat mengikuti isu-isu utama dalam percaturan politik dunia.

Salah satu penyumbang terbesar kerusakan lingkungan hidup adalah polusi yang ditimbulkan oleh pembakaran bahan bakar fosil, seperti batubara, bahan bakar minyak, dan gas alam secara besar-besaran. Dari pembakaran itu berakibat terjadinya emisi rumah kaca sebagai penyebab pemanasan global. Untuk mengurangi ketergantungan dari bahan bakar fosil tersebut, diperlukan pencarian dan pengembangan energi alternatif untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Salah satu energi alternatif yang giat dikembangkan oleh negara-negara maju adalah sumber energi berbasis biomassa. Salah satu produk sumber energi biomassa yang dapat menggantikan bahan bakar padat seperti batu bara diantaranya  adalah pelet kayu (wood pellet).

Penelitian dan pemanfaatan pelet kayu yang belum berkembang di Indonesia diantaranya disebabkan oleh belum adanya desakan atas kebutuhan bahan bakar alternatif pengganti BBM dan gas akibat murahnya harga bahan bakar fosil. Selain itu belum ada pengembangan untuk menjadikan energi pelet kayu ini mudah digunakan oleh masyarakat secara luas. Untuk itu diperlukan langkah-langkah dalam mengadopsi dan mengadaptasi sumber energi pelet kayu dan perluasan penggunaannya di Indonesia sebagai sumber energi rendah emisi.

Ketahanan Energi Indonesia

Untuk dapat memahami pentingnya ketahanan energi dalam pembangunan, terlebih dahulu perlu dimengerti apa yang membentuk ketahanan energi. Ketahanan energi berhubungan dengan mengamankan energi masa depan suatu bangsa dengan cara mendapatkan sumber daya energi yang stabil dan berkecukupan dengan harga terjangkau.

Permintaan energi global dalam beberapa dekade terakhir sebagian besar dipenuhi dengan bantuan kemajuan teknologi di sektor energi. Di sisi lain, energi masih mengalami kelangkaan, kondisi yang ironis ditengah kemajuan peradaban dunia. Meningkatnya konsumsi energi yang diprediksi akan terus melejit seiring pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia juga akan mempersulit posisi ketahanan energi.

Di dalam negeri, konsumsi energi primer telah meningkat lebih dari 50 persen sejak tahun 2000 hingga 2010. sementara, produksi minyak yang masih mendukung sebagian besar kebutuhan energi kita, telah turun dari puncak produksi sejumlah 1,6 juta barel per hari menjadi hanya 861.000 barel per hari di tahun 2012. Pada saat bersamaan, cadangan minyak terbukti menurun lebih dari 1,9 miliar barel sejak 1992, yang merupakan penurunan paling tajam di Asia.

Kondisi perminyakan Indonesia kini tidak dapat diharapkan lagi. Hal ini berkaitan dengan kondisi cadangan minyak Indonesia yang hanya 0,4% dari cadangan dunia. Cadangan tersebut diperkirakan hanya bisa memenuhi kebutuhan minyak sampai tahun 2020. Ketahanan minyak sendiri dalam kondisi yang memprihatinkan. Saat ini Indonesia sangat bergantung pada impor minyak, baik dalam bentuk minyak mentah maupun BBM. Ketergantungan ini diperburuk dengan kemampuan penyulingan yang rendah dan menurunnya produksi minyak bumi yang membuat Indonesia menjadi net importir minyak.

Untuk itu sangat penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak. Selain itu, untuk mendukung ketahanan energi dapat ditempuh pula cara pengembangan diversifikasi energi dan pengurangan subsidi bahan bakar. Khusus diversifikasi energi, banyak sekali energi alternatif yang dapat dikembangkan. Salah satu sumber daya yang masih tersedia dalam jumlah yang banyak dan berkelanjutan adalah energi dari biomassa.

Terhambatnya Pengembangan Energi Alternatif Akibat Subsidi Bahan Bakar Fosil

Tren dalam menggunakan bahan bakar hidrokarbon diprediksi akan tetap mendominasi konsumsi energi Indonesia di masa depan. Sementara dengan level konsumsi Indonesia saat ini, sumber-sumber daya ini bisa segera habis. Sebetulnya terdapat banyak sumber-sumber energi terbarukan lainnya di Indonesia yang dapat dikembangkan seperti tenaga hidro dan tenaga laut, angin laut, dan tenaga surya. Secara keseluruhan sektor energi terbarukan memiliki potensi pengembangan yang tinggi. Langkah-langkah pengambangan energi terbarukan ini harus didukung oleh pemerintah agar mampu berkembang. Namun, satu isu yang menghantui pemerintah selama bertahun-tahun dan mengakibatkan terlenanya pengembangan sumber energi terbarukan adalah adanya beban subsidi bahan bakar.

Subsidi bahan bakar telah meningkat sejak diperkenalkan pada era 1960an. Tak hanya semakin sulit untuk mempertahankan level yang diinginkan masyarakat Indonesia, subsidi ini telah menjadi penghalang terbesar bagi efisiensi di pasar energi. Subsidi energi juga menyebabkan alokasi sumber daya yang kurang tepat karena subsidi membuat bahan bakar dijual dengan harga yang sangat murah dengan mengorbankan area-area penting lainnya seperti pemberantasan kemiskinan, penyediaan layanan kesehatan dan pembangunan infrastruktur.

Pengurangan subsidi bahan bakar disinyalir sangat diperlukan saat ini. Pengurangan subsidi akan membuat harga bahan bakar meningkat sehingga mengerem permintaan karena konsumen harus menanggung sebagian dari beban bahan bakar sementara pemerintah menghemat triliunan rupiah. Pemotongan subsidi juga akan menyamaratakan kesempatan bagi sumber-sumber energi lainnya untuk berkompetisi dengan bahan bakar bersubsidi. Hal ini akan mendorong perkembangan energi terbarukan.

 

Untuk pengembangan biofuel, Indonesia memiliki cadangan biomassa yang besar dari industri pertanian dan kehutanan, termasuk gula, karet, minyak sawit dan kayu. Oleh karena itu, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi pusat produksi biofuel, meskipun saat ini terbatasi oleh kenyataan bahwa sumber-sumber biofuel banyak diekspor karena harga komoditas yang tinggi di pasar internasional.

FACTORY ADDRESS

WOOD PELLETS FACTORY

PABRIK WOOD PELET

CIAMIS - WEST JAVA

KAPASITAS PRODUKSI

2.500 M/T PER BULAN

60% PRODUKSI UNTUK DALAM NEGERI

40% PRODUKSI UNTUK LUAR NEGERI

CONTACT

OWNER

SUPRIATNA

Telp : 0851.02.1323.95

Whatsapp : 0852.21.222.345

email : info@peletserbukkayu.com

(sebelum menghubungi, mohon sms terlebih dahulu)


TIM WEB SUPPORT

KRISTEDDY

Pin BB : 59BB101F

Whatsapp : 08221.45678.19

E-mail : kris@peletserbukkayu.com

OUR PARTNER

Lazada Philippines

bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online

Hosting Unlimited Indonesia

Premium Wordpress Themes

Artikel Terbaru
SLINK
Kategori

Komentar Terbaru
VISITOR
TRANSLATOR


widgets
Copyright © 2017 Wood Pellet Indonesia · All Rights Reserved